Bukit Mantar Sumbawa: Rasakan Sensasi Negeri di Atas Awan

bukit mantar

Sumbawa, sebuah pulau di Nusa Tenggara Barat, menyimpan sebuah permata tersembunyi yang kerap wisatawan sebut sebagai Negeri di Atas Awan. Permata ini adalah Bukit Mantar. Kami membawa Anda melampaui keindahan pantai Lombok dan Bali; kami mengajak Anda mendaki ketinggian untuk menemukan pemandangan yang menakjubkan. Saat Anda berdiri di puncak bukit ini, Anda merasakan sensasi luar biasa, seolah-olah Anda benar-benar hidup di atas hamparan awan putih. Pengalaman inilah yang menarik perhatian wisatawan, menawarkan pemandangan luas dan kedamaian yang jauh dari hiruk pikuk kota. Oleh karena itu, Anda wajib mempersiapkan diri untuk perjalanan yang bukan sekadar liburan, melainkan sebuah petualangan spiritual.

Desa Mantar merupakan sebuah perkampungan unik yang bertengger tinggi pada ketinggian sekitar 650 meter di atas permukaan laut (MDPL). Dari titik pandang istimewa ini, pengunjung disajikan pemandangan yang melampaui ekspektasi. Anda menikmati hamparan laut biru yang membentang luas, dihiasi oleh pulau-pulau kecil di sekitarnya. Di kejauhan, Anda bahkan bisa menyaksikan megahnya siluet Gunung Rinjani di Pulau Lombok. Pemandangan yang dramatis ini menciptakan latar belakang sempurna untuk refleksi dan fotografi.

Perlu dicatat, pemandangan “lautan awan” yang menyerupai samudra kabut tidak muncul setiap waktu. Meskipun demikian, momen terbaik untuk menyaksikan fenomena ini adalah saat matahari terbit. Analisis menunjukkan bahwa keajaiban ini paling sering muncul dan paling spektakuler terjadi selama musim penghujan. Oleh karena itu, para pelancong yang memprioritaskan pengalaman visual lautan awan harus merencanakan kunjungan selama periode tersebut. Akan tetapi, Anda harus menimbang faktor ini: kunjungan saat musim hujan secara langsung memengaruhi kondisi jalan akses, yang menuntut persiapan ekstra. Kami akan membahas tantangan akses ini lebih lanjut.

Bukit Mantar menyediakan dua spektrum pengalaman yang kontras namun saling melengkapi: olahraga ekstrem yang memacu adrenalin dan ketenangan alam yang menyegarkan jiwa.

paraglider bukit mantar

Bukit Mantar telah lama terkenal sebagai lokasi paragliding atau paralayang yang luar biasa. Aktivitas menantang ini menawarkan sensasi yang sangat mengesankan: Anda melayang di atas awan, mengarungi ketinggian Mantar sambil menikmati panorama spektakuler. Banyak wisatawan menggambarkan pengalaman terbang ini sebagai hal yang tidak terlupakan. Selain itu, harga untuk mencoba paralayang di sini relatif terjangkau, dimulai dari sekitar Rp 500.000 saja. Sensasi menantang gravitasi ini menjadi daya tarik utama bagi pecinta petualangan.

bukit mantar

Di samping aktivitas ekstrem, Mantar juga menjadi tujuan ideal bagi mereka yang mencari kedamaian dan ketenangan. Pengunjung melakukan camping di dekat tebing, menikmati suasana yang sangat damai dan jauh dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Lokasi ini juga menawarkan fasilitas camping yang cukup lengkap, membuat perencanaan berkemah menjadi lebih mudah. Karena jam operasional lokasi dibuka 24 jam penuh, pengunjung memiliki kesempatan penuh untuk menikmati momen matahari terbit dan terbenam yang sempurna untuk fotografi.

Akses menuju Bukit Mantar merupakan bagian integral dari petualangan itu sendiri. Mengingat lokasi yang terpencil, perencanaan transportasi yang matang menjadi sangat penting.

Jika Anda memulai perjalanan dari Pulau Lombok (Mataram), Anda harus mengambil Jalan Raya Lintas Sumbawa, menuju ke arah timur sampai Pelabuhan Kayangan. Dari Pelabuhan Kayangan, Anda menyeberang menggunakan kapal ferry menuju Pelabuhan Poto Tano di Sumbawa. Kapal ferry beroperasi setiap jam, dan perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam 40 menit hingga 1 jam 50 menit.

Biaya penyeberangan ferry bervariasi tergantung kategori kendaraan. Perjalanan ini memerlukan perhatian logistik yang cermat, terutama jika Anda membawa kendaraan.

Rincian Akses Ferry Kayangan (Lombok) ke Poto Tano (Sumbawa)

Kategori Penumpang/KendaraanPerkiraan Biaya (IDR)Waktu Tempuh Rata-rata
Penumpang DewasaRp 12.8001 jam 40 menit
Sepeda MotorRp 51.5001 jam 40 menit
Mobil Pribadi (di bawah 5m)Rp 445.0011 jam 40 menit
Rute Akhir dan Kebutuhan Kendaraan

Dari Poto Tano, Anda melanjutkan perjalanan sekitar 30 hingga 40 menit menuju Desa Mantar. Namun demikian, pada ruas terakhir, Anda menemukan medan jalan yang sangat menantang. Perlu dicatat, jalanan menuju Mantar masih berupa jalan makadam, berbatu, dan berdebu, terutama saat musim kemarau. Oleh karena itu, Anda harus menggunakan kendaraan four-wheel drive (4WD) atau kendaraan dengan kemampuan off-road yang memadai.

Perlu dipahami bahwa kesulitan akses ini sesungguhnya berperan sebagai filter alami bagi pariwisata. Medan yang menantang ini secara efektif menjaga desa dan keindahan alam Mantar dari membludaknya jumlah wisatawan, sehingga ketenangan dan keaslian tempat tersebut tetap terjaga. Dengan demikian, para pelancong yang bersedia menghadapi tantangan ini akan dihargai dengan pemandangan yang tak tertandingi.

Desa Mantar bukan sekadar tempat wisata alam, melainkan sebuah komunitas yang kaya akan sejarah dan nilai budaya. Berdasarkan riwayat yang diceritakan, nenek moyang masyarakat setempat menemukan desa ini ratusan tahun lalu setelah kapal mereka kandas di perairan Tuananga. Mereka kemudian tinggal di sana, menurunkan keturunan hingga hari ini. Desa ini juga memiliki situs purbakala yang usianya mencapai ratusan tahun. Selain itu, penduduk Desa Mantar menunjukkan keramahan yang luar biasa kepada pengunjung, membuat pengalaman berinteraksi menjadi sangat berkesan. Komunitas lokal juga berupaya membangkitkan dan mengembangkan budaya tenun khas daerah.

Jejak Sinema Nasional: Serdadu Kumbang

Anda mungkin mengenali desa ini dari layar lebar. Ya, Mantar adalah lokasi syuting utama film nasional, Serdadu Kumbang. Film ini, yang diproduksi oleh Alenia Pictures, menceritakan kisah mengharukan tentang tiga sahabat karib—Amek, Umbe, dan Acan—yang hidup dalam keterbatasan di perbukitan Desa Mantar, namun memiliki cita-cita besar. Amek, sebagai pemeran utama, bercita-cita menjadi penyiar TV nasional. Pengetahuan tentang latar belakang film bertema anak dan pendidikan ini menambahkan kedalaman emosional pada kunjungan Anda. Ketika Anda mengunjungi Mantar, Anda tidak hanya melihat pemandangan indah, tetapi juga menelusuri jejak kisah inspiratif perjuangan tiga bocah pahlawan lokal.

Perjalanan ke Mantar akan terasa lengkap jika Anda menikmati akomodasi dan kuliner lokal Sumbawa Barat.

Pilihan Kuliner Khas yang Wajib Dicoba

Setelah menaklukkan jalur Mantar, Anda harus mencicipi kuliner khas daerah yang sangat unik. Sumbawa Barat menawarkan beragam sajian dengan cita rasa jempolan. Anda wajib mencoba Ayam Taliwang, olahan ayam kampung pedas yang telah tersohor sebagai ikon kuliner Sumbawa. Selanjutnya, cobalah Sop Tulang yang biasanya disajikan dengan sedotan untuk memudahkan Anda menyeruput sumsum yang gurih. Jika Anda menyukai hidangan ikan, Anda harus menikmati Sepat, ikan berkuah yang terasa sedap dan segar dengan rasa asam yang khas. Selain itu, terdapat Singang, sajian ikan berkuah kuning yang kaya rempah, serta Bubur Palopo yang dimodifikasi menjadi hidangan manis khas Sumbawa.

Rekomendasi Kuliner Khas Sumbawa Barat yang Wajib Dicoba

Nama Kuliner KhasDeskripsi SingkatCita Rasa Utama
Ayam TaliwangOlahan ayam kampung pedas yang dibakar atau digoreng.Pedas, Kaya Bumbu
Sop TulangSup kaya rasa, sering disajikan dengan sedotan untuk sumsum.Umami, Kuat, Gurih
SepatIkan berkuah segar, dengan bumbu garam dan asam jawa.Asam, Segar
SingangSajian ikan berkuah kuning.Kaya Rempah
Akomodasi dan Optimalisasi Itinerary

Meskipun Mantar sangat cocok untuk aktivitas camping di puncak bukit, bagi pelancong yang mencari fasilitas mewah, pilihan akomodasi tersedia di kawasan pesisir Maluk dan Sekongkang, sekitar 30 hingga 37 kilometer dari desa. Beberapa resor seperti Kacchapa Beach Resort, Kini Resort, dan Baha Baha Villas menawarkan kenyamanan menginap yang prima.

Karena akses ke Mantar yang menuntut persiapan dan waktu, para pelancong disarankan untuk mengoptimalkan rencana perjalanan regional. Setelah turun dari ketinggian, Anda dapat melanjutkan petualangan ekologi dengan mengunjungi Danau Lebo, sebuah kawasan konservasi alam seluas 752 hektar. Di sana, Anda bisa mengayuh sampan atau menikmati kuliner ikan kela lebo singang yang merupakan teknik khusus merebus ikan nila dengan bumbu khas Sumbawa. Menggabungkan Mantar (ketinggian), Maluk/Sekongkang (resor pantai), dan Danau Lebo (ekologi) menciptakan Itinerary Segitiga Sumbawa Barat yang memaksimalkan pengalaman dan nilai perjalanan Anda.


Baca Juga : Pulau Kenawa Sumbawa: Surga Tersembunyi dengan Pesona Alam yang Indah


Paket Wisata yang mungkin anda minati