email : travelvalsa@gmail.com | chat only : +62 812 3485 8546
Melihat Proses Budidaya Mutiara di Pesisir Pulau Lombok

Apakah Anda pernah bertanya-tanya, mengapa sebutir mutiara khas Lombok memiliki harga yang fantastis? Apakah Anda berpikir bahwa harga tersebut hanya sekadar strategi pemasaran belaka? Jawabannya tentu saja tidak. Saya baru saja membuktikan sendiri bahwa di balik kemilau indah perhiasan tersebut, terdapat sebuah perjuangan panjang yang melibatkan ketelatenan manusia dan keajaiban alam.
Pekan lalu, saya memutuskan untuk tidak sekadar berjemur di pantai. Saya memilih untuk mengunjungi “dapur” pembuatan perhiasan ini di kawasan Teluk Nare, Lombok Utara. Perjalanan ini membuka mata saya lebar-lebar tentang bagaimana kerang Pinctada maxima bekerja keras menghasilkan permata yang dunia kenal sebagai South Sea Pearl. Mari saya ajak Anda menelusuri pengalaman tak terlupakan ini.
Menembus Ombak Menuju Laboratorium Apung
Matahari pagi bersinar hangat ketika saya tiba di dermaga kecil Teluk Nare. Angin laut membelai wajah dengan lembut, membawa aroma garam yang khas. Tanpa menunggu lama, saya segera melompat ke atas sebuah speedboat kecil yang akan membawa saya ke tengah laut. Mesin perahu menderu, memecah kesunyian pagi, dan membawa kami melaju membelah air laut yang jernih berwarna hijau toska.
Sepanjang perjalanan singkat sekitar 10 menit tersebut, mata saya tak henti-hentinya memandang ke bawah. Air laut begitu bening sehingga saya bisa melihat gugusan karang yang melambai-lambai dari dasar laut. Di kejauhan, Gunung Rinjani berdiri gagah menjadi latar belakang yang sempurna, sementara tiga gili (Trawangan, Meno, dan Air) tampak seperti kepingan surga yang mengapung di cakrawala.
Tak lama kemudian, perahu kami merapat di sebuah bangunan kayu yang terapung di atas drum-drum biru. Inilah lokasi budidaya mutiara milik Autore Pearl Farm. Meskipun dari luar terlihat sederhana seperti keramba nelayan biasa, tempat ini sejatinya adalah laboratorium canggih yang menyimpan jutaan aset berharga.
Mengintip “Ruang Operasi” yang Menegangkan
Setelah menapakkan kaki di lantai kayu yang sedikit bergoyang karena ombak, pemandu lokal menyambut kami dengan ramah. Ia segera mengajak kami masuk ke area laboratorium. Jangan bayangkan tempat yang becek atau bau amis. Sebaliknya, ruangan ini sangat bersih, sejuk ber-AC, dan penuh dengan peralatan modern.
Di sinilah saya melihat proses yang paling krusial: operasi penyuntikan. Melalui dinding kaca, saya mengamati seorang teknisi wanita yang bekerja dengan fokus tingkat tinggi. Tangannya memegang alat bedah yang sangat presisi. Ia membuka cangkang kerang dewasa hanya beberapa sentimeter—tidak boleh terlalu lebar agar kerang tidak stres atau mati.
Selanjutnya, teknisi tersebut menyisipkan sebuah inti bulat (nukleus) yang terbuat dari cangkang kerang air tawar Mississippi ke dalam organ reproduksi si kerang. Namun, nukleus saja tidak cukup. Ia juga memasukkan potongan kecil daging mantel (saibo) dari kerang donor lain. Saibo inilah yang nantinya bertugas memicu pembentukan lapisan nacre atau kulit mutiara.
Saya menahan napas saat melihat proses tersebut. Gerakan tangan teknisi itu harus cepat namun sangat hati-hati. Jika ia melakukan kesalahan sedikit saja, kerang bisa memuntahkan nukleus tersebut atau bahkan mati. Inilah mengapa mutiara khas Lombok memiliki nilai jual tinggi; risiko kegagalannya sangat besar.
Penantian Panjang di Bawah Laut

Setelah operasi selesai, para pekerja tidak lantas bisa bersantai. Mereka meletakkan kerang-kerang yang baru “sembuh” itu ke dalam keranjang jaring khusus. Kemudian, mereka menggantung keranjang tersebut di kedalaman laut tertentu menggunakan tali panjang (long-line).
Pemandu menjelaskan bahwa kerang-kerang ini membutuhkan waktu minimal 2 hingga 4 tahun untuk melapisi nukleus tersebut dengan cairan nacre secara alami. Selama masa penantian itu, para pekerja harus rutin mengangkat kerang-kerang tersebut. Mereka harus membersihkan cangkang luar dari lumut, teritip, dan parasit lainnya yang menempel.
Jika mereka malas membersihkannya, kerang akan sakit dan mutiara yang dihasilkan akan cacat atau tidak berkilau sempurna. Jadi, ketika Anda membeli sebutir mutiara, Anda sebenarnya sedang membeli waktu, kesabaran, dan tenaga kerja manusia yang merawatnya selama bertahun-tahun di tengah lautan.
Membedakan Si Asli dan Si Palsu

Setelah puas berkeliling di area budidaya, kami kembali ke darat menuju showroom. Di sini, mata saya langsung dimanjakan oleh kilau mutiara khas Lombok dalam berbagai warna: putih, silver, champagne, dan yang paling ikonik, deep gold.
Namun, satu pertanyaan besar muncul di benak saya: bagaimana cara memastikan keasliannya? Di pasar luaran, banyak sekali beredar mutiara imitasi yang sangat mirip dengan aslinya. Sang pemandu kemudian tersenyum dan memberikan tips yang sangat praktis, yaitu “Tes Gigi”.
“Coba gosokkan mutiara ini ke gigi depan Anda,” tantangnya.
Saya pun mencobanya. Ketika saya menggesekkan permukaan mutiara ke ujung gigi, saya merasakan sensasi kesat dan berpasir (gritty). Rasanya seperti menggesekkan amplas yang sangat halus.
“Itulah tanda mutiara asli,” jelas pemandu tersebut. “Struktur alami mutiara terdiri dari tumpukan kristal aragonit yang mikroskopis, sehingga teksturnya tidak mungkin licin sempurna.”
Sebaliknya, jika Anda menggesekkan mutiara dan rasanya sangat licin seperti kaca atau plastik, maka Anda patut curiga. Kemungkinan besar itu adalah mutiara palsu buatan pabrik. Tips sederhana ini tentu akan sangat berguna jika Anda berencana berburu perhiasan di sentra kerajinan seperti Sekarbela, Mataram.
Mengapa Harus Mutiara Lombok?
Menutup kunjungan hari itu, saya merenung sejenak. Lombok memang memiliki pesaing dalam industri mutiara. Namun, mutiara khas Lombok jenis South Sea Pearl memiliki keunggulan yang sulit tertandingi. Ukurannya yang besar (mulai dari 9mm hingga 20mm) dan lapisan nacre-nya yang tebal membuatnya memantulkan cahaya dengan sangat dalam dan lembut, berbeda dengan mutiara air tawar yang kilaunya cenderung tajam seperti kaca.
Selain itu, varian warna emas (Gold) dari perairan Lombok adalah yang terbaik di dunia. Warna ini muncul secara alami dari bibir kerang Gold-Lipped Oyster, bukan hasil pewarnaan buatan.
Oleh karena itu, bagi Anda yang sedang merencanakan liburan, saya sangat menyarankan untuk memasukkan wisata edukasi mutiara ke dalam itinerary Anda. Anda tidak hanya akan mendapatkan foto-foto yang instagramable dengan latar laut biru, tetapi juga wawasan baru yang membuat Anda semakin menghargai kekayaan alam Indonesia.
Jadi, ketika nanti Anda melihat harga kalung mutiara yang mencapai jutaan rupiah, Anda tidak akan lagi kaget. Anda akan tersenyum, mengingat ada tangan-tangan terampil dan proses alam yang ajaib di balik setiap butirnya. Segera kemasi barang Anda, dan buktikan sendiri pesona Lombok yang sesungguhnya!



