email : travelvalsa@gmail.com | chat only : +62 812 3485 8546
Waktu Terbaik Berkunjung ke Sawah Terasering Mareje Biar Dapat View Keren

Jika kamu ke Lombok dan merasa bosan dengan pantai atau mungkin kamu sedang mencari vibes ala Ubud tapi versi lebih sepi, lebih murah, dan pastinya lebih “Lombok”? Kalau iya, kamu wajib melirik sawah terasering mareje. Tempat ini belakangan viral karena lanskap persawahannya yang memukau. Tapi, tunggu dulu. Jangan asal gas. Banyak wisatawan datang di waktu yang salah dan akhirnya cuma melihat tanah kering atau jerami sisa panen.
Artikel ini akan mengupas tuntas kapan sebenarnya waktu terbaik mengunjungi Mareje, bagaimana kondisi jalan yang sebenarnya, dan estimasi biaya yang perlu kamu siapkan. Yuk, simak review jujur tanpa filter ini.
Kenapa Mareje?
Desa Mareje terletak di Kecamatan Lembar, Kabupaten Lombok Barat. Berada di ketinggian sekitar 400 meter di atas permukaan laut (mdpl), desa ini menawarkan udara yang jauh lebih sejuk ketimbang area pesisir. Daya tarik utamanya jelas: hamparan sawah berundak atau terasering yang mengikuti kontur perbukitan.
Warga setempat menyebut teknik ini “sengkedan”. Selain mencegah longsor, pola ini menciptakan garis-garis artistik yang sangat instagramable. Kamu bisa melihat perpaduan warna hijau padi, langit biru, dan gumpalan awan putih yang seolah menyatu. Namun, keindahan ini sangat bergantung pada musim. Salah bulan, salah pemandangan.

Kapan Waktu Terbaik Berkunjung? (Catat Ini!)
Ini adalah poin paling krusial. Sistem pertanian di Mareje mayoritas adalah sawah tadah hujan. Artinya, petani sangat bergantung pada turunnya air langit untuk mulai menanam. Berdasarkan pola tanam tahunan dan data pertanian lokal, siklus tanam biasanya dimulai saat curah hujan mulai stabil.
1. Bulan Januari – Februari: Fase “Hijau Royo-royo”
Dinas Pertanian Lombok Tengah dan sekitarnya memprediksi musim tanam padi pertama seringkali dimulai pada bulan Desember seiring datangnya musim hujan.
- Kondisi: Padi sedang dalam masa pertumbuhan vegetatif (usia 1-2 bulan). Daunnya tumbuh lebat, batangnya kokoh, dan warnanya hijau pekat.
- Visual: Ini adalah prime time atau waktu emas. Kamu akan melihat karpet hijau raksasa yang menyelimuti bukit.
- Saran: Datanglah pada pertengahan Januari hingga akhir Februari.
2. Bulan Maret – April: Fase “Kuning Keemasan”
Menjelang bulan April, padi mulai memasuki fase generatif atau pematangan. Bulir padi mulai berisi dan warnanya berubah menjadi kuning.
- Visual: Pemandangannya tetap indah, memberikan nuansa emas yang hangat, mirip lukisan panen raya.
- Saran: Cocok buat kamu yang suka tone foto warm atau keemasan.
3. Bulan Mei – Agustus: Fase “Cokelat/Kering”
Setelah panen raya (biasanya April-Mei), lahan akan kosong atau ditanami palawija (jagung/kacang-kacangan) yang visualnya tidak sehijau padi.
- Visual: Tanah kering, jerami sisa panen, atau tanaman jagung. Kurang estetik untuk foto “ala Ubud”.
Kesimpulan Waktu: Untuk mendapatkan view hijau royo-royo yang maksimal, lingkari kalendermu di bulan Januari dan Februari.
Jam Berapa Paling Pas?

Selain bulan, jam kunjungan juga menentukan kualitas fotomu.
- Pagi (07.00 – 10.00 WITA): Matahari pagi menyinari lembah dengan lembut. Embun masih terlihat, dan langit biasanya biru cerah. Ini waktu terbaik untuk foto.
- Sore (15.00 – 17.00 WITA): Kamu bisa mengejar golden hour. Tapi ingat, bulan Januari-Februari adalah puncak musim hujan. Sore hari seringkali mendung atau hujan deras, yang membuat jalanan menjadi licin dan berbahaya.
Review Jujur Akses Jalan: Siapkan Nyali!
Jujur saja, perjalanan menuju sawah terasering mareje bukan untuk kaum yang “lemah jantung”. Meskipun jaraknya hanya sekitar 36 km atau 1 jam 15 menit dari Kota Mataram, medannya cukup menantang.
- Kondisi Aspal: Kabar baiknya, mayoritas jalan utama menuju desa sudah teraspal mulus hotmix. Kamu tidak akan banyak menemui jalan berlubang parah.
- Tanjakan Ekstrem: Karena letaknya di perbukitan, kamu harus menaklukkan tanjakan yang panjang dan curam. Ada beberapa titik tikungan tajam yang menanjak sekaligus (blind spot).
- Tips Kendaraan:
- Motor: Hindari menggunakan motor matic kecil (110cc) jika berboncengan, kecuali motor dalam kondisi prima. Matic rawan rem blong saat turunan atau tidak kuat nanjak. Motor gigi (manual) atau motor sport lebih aman.
- Mobil: Pastikan mobilmu sehat. Mobil jenis city car bisa naik, tapi harus pintar main gigi rendah.

Murah Meriah!
Jangan membayangkan fasilitas mewah ala resort. Ini adalah desa wisata yang dikelola warga. Fasilitasnya sederhana namun fungsional.
- Tiket Masuk: Cukup bayar Rp5.000 per orang. Murah banget, kan?
- Parkir: Motor dikenakan Rp2.000.
- Guide Lokal: Ada pemuda setempat yang siap mengantar trekking ke spot terbaik. Mereka tidak mematok tarif (sukarela), tapi selipkanlah tip (Rp20rb-50rb) sebagai apresiasi.
- Warung: Ada warung-warung kecil milik warga yang menjual kopi, mie instan, dan gorengan.
Sisi Unik: Toleransi yang Menyejukkan
Selain alam, Mareje menyimpan cerita indah tentang kemanusiaan. Di sini, umat Muslim dan Buddha hidup berdampingan secara damai. Kamu akan melihat Vihara Tendaun Giri Sena yang megah tak jauh dari masjid. Pemandangan ini membuktikan bahwa toleransi adalah napas kehidupan warga Mareje. Melihat petani memakai caping bekerja bersama tanpa memandang agama adalah pemandangan yang menyejukkan hati.
Itinerary “One Day Trip” Lembar
Biar makin efektif, gabungkan kunjungan ke Mareje dengan destinasi lain di sekitarnya:
- 08.00 – 10.00: Eksplorasi Sawah Terasering Mareje. Puas-puasin foto dan hirup udara segar.
- 10.30 – 12.00: Mampir ke Gunung Batu Idung. Lokasinya searah jalan pulang (Gerung). Kamu bisa melihat pemandangan pelabuhan dari atas bukit.
- 12.30 – 14.30: Makan siang di Pantai Cemare. Nikmati seafood segar seperti ikan bakar dan sate ikan khas Cemare di pinggir pantai.
- 15.00 – Selesai: Jika masih kuat, nyeberang sebentar ke Gili Kedis dari sekotong untuk main air.
Sawah terasering mareje adalah definisi hidden gem yang sesungguhnya. Ia menawarkan keindahan otentik tanpa perlu merogoh kocek dalam. Waktu terbaik adalah Januari-Februari. Pastikan kendaraanmu sehat, bawa jas hujan, dan jagalah kebersihan desa ini.
Selamat berpetualang dan semoga mendapat pemandangan hijau royo-royo yang kamu impikan!



