email : travelvalsa@gmail.com | chat only : +62 812 3485 8546
Waktu Terbaik Mengunjungi Bukit Teletubbies Anggaraksa Lombok Timur

Kita semua pasti pernah mengalami ini: melihat foto bukit hijau yang luar biasa indah di feed Instagram, lalu buru-buru memesan tiket pesawat, menyewa motor, dan menempuh perjalanan berjam-jam. Namun, sesampainya di lokasi, yang kita temukan hanyalah gundukan tanah cokelat gersang yang berdebu. Kecewa? Pasti.
Itulah mengapa artikel ini dibuat. Topik kita hari ini spesifik: Bukit Teletubbies Anggaraksa di Lombok Timur.
Destinasi ini sedang naik daun. Orang-orang menyebutnya “New Zealand-nya Lombok” atau membandingkannya dengan bukit serupa di Nusa Penida dan Bromo. Tapi, apakah tempat ini layak dikunjungi sepanjang tahun? Jawabannya tegas: Tidak. Ada waktu-waktu spesifik di mana bukit ini terlihat seperti surga, dan ada waktu di mana ia hanya terlihat seperti ladang tandus biasa.
Di artikel ini, kita akan membedah fakta klimatologisnya, memberikan rute akurat, dan tentu saja, review jujur tanpa filter tentang apa yang sebenarnya akan Anda hadapi di sana. Kita tidak akan membuang waktu Anda dengan basa-basi marketing pariwisata yang klise. Mari kita mulai.
Kenapa Harus Anggaraksa? (Dan Bukan Tempat Lain)
Sebelum kita masuk ke pembahasan waktu kunjungan, Anda perlu tahu konteks geografisnya. Bukit Teletubbies ini terletak di Desa Anggaraksa, Kecamatan Pringgabaya, Kabupaten Lombok Timur.
Berbeda dengan Bukit Merese di Lombok Tengah yang sudah sangat komersil dan ramai, Anggaraksa menawarkan sesuatu yang mulai langka di Lombok: kesunyian yang autentik. Topografinya unik. Ia bukan kaldera vulkanik raksasa seperti Bromo, melainkan rangkaian perbukitan pantai yang landai dengan kontur bergelombang halus—persis seperti rumah Tinky Winky dan kawan-kawan.
Daya tarik utamanya adalah kombinasi visual. Jika Anda berdiri di puncaknya, satu sisi mata Anda akan dimanjakan oleh hamparan Selat Alas yang biru, sementara sisi lainnya menyuguhkan kemegahan Gunung Rinjani yang menjulang tinggi. Ini adalah paket lengkap landscape fotografi yang sulit dicari tandingannya. Namun, ingat satu hal kunci: keindahan ini sangat bergantung pada satu elemen, yaitu air.
Kapan Rumputnya “Menyala”?
Ini adalah bagian terpenting dari artikel ini. Kapan Anda harus datang?
Banyak traveler pemula melakukan kesalahan fatal dengan datang di bulan Juni atau Juli, berharap melihat bukit hijau, padahal itu adalah puncak musim kemarau. Mari kita lihat datanya. Wilayah Pringgabaya memiliki siklus curah hujan yang sangat tegas.
1. Fase “Hijau Neon” (Januari – Februari)
Berdasarkan data cuaca, Februari adalah bulan dengan curah hujan tertinggi di wilayah ini, mencapai rata-rata 232 milimeter. Pada fase ini, rumput sedang tumbuh dengan sangat agresif. Warnanya hijau pekat, tebal, dan sangat segar.
- Pros: Pemandangan paling hijau.
- Cons: Risiko hujan sangat tinggi. Jalanan tanah menuju lokasi bisa berubah menjadi jalur lumpur yang menyiksa, terutama jika Anda menggunakan motor matic biasa. Langit sering mendung, membuat foto terlihat “datar” tanpa kontras biru.
2. Fase “Golden Moment” (Maret – Awal April)
Inilah waktu terbaik yang saya rekomendasikan. Pada bulan Maret, intensitas hujan mulai menurun, namun tanah masih menyimpan cukup air untuk menjaga rumput tetap hijau.
- Kenapa ini waktu terbaik? Anda mendapatkan kombinasi maut: rumput yang masih hijau segar bertemu dengan langit biru cerah yang mulai sering muncul. Kontras warna ini yang akan membuat foto Anda “meledak” di media sosial. Risiko kehujanan di tengah jalan juga jauh lebih kecil dibandingkan Januari atau Februari.
3. Fase Transisi & Kering (Mei – Oktober)
Memasuki Mei, rumput mulai menguning. Pada bulan Agustus, curah hujan di Pringgabaya bisa turun drastis hingga hanya 8 milimeter per bulan.
- Realitas: Bukit ini akan berubah menjadi savana cokelat keemasan. Jika Anda mencari vibes ala Afrika atau musim gugur yang melankolis, ini waktu yang tepat. Tapi jika Anda mencari “Teletubbies Hijau”, jangan datang di bulan-bulan ini. Anda hanya akan menemukan debu dan tanah kering.
Kesimpulan : Tandai kalender Anda untuk pertengahan Maret. Itu adalah titik temu paling ideal antara cuaca bersahabat dan vegetasi maksimal.
Sisi Gelap yang Jarang Diceritakan
Blog travel lain mungkin hanya akan memuji keindahannya. Tapi di sini, kita bicara fakta lapangan supaya Anda siap mental.
1. Panas yang Menyengat Namanya juga bukit savana, artinya tidak ada pohon besar untuk berteduh. Jika Anda datang pukul 11.00 siang hingga 14.00 siang, Anda akan merasa seperti dipanggang hidup-hidup. Matahari Lombok Timur terkenal “jahat” dan menyengat kulit. Bawa topi, kacamata hitam, dan sunblock adalah harga mati.
2. Fasilitas Minim (Sangat Minim) Jangan berekspektasi ada kafe kekinian dengan AC atau toilet duduk yang wangi di atas bukit. Hingga saat artikel ini ditulis, fasilitas di sana masih sangat dasar, dikelola secara swadaya oleh warga desa. Toilet mungkin ada di area parkir bawah, tapi kondisinya sederhana. Bawa air minum dan perbekalan sendiri, tapi tolong—sangat tolong—bawa kembali sampah plastik Anda ke bawah.
3. Akses Jalan yang “Menantang” Jalan raya utama menuju Pringgabaya sudah mulus beraspal. Namun, begitu Anda masuk ke jalan desa menuju kaki bukit, kondisinya bervariasi. Ada bagian yang berbatu dan tanah padat. Jika Anda bukan pengendara motor yang mahir, harap ekstra hati-hati. Mobil city car (seperti Brio atau Agya) bisa masuk, tapi harus pelan-pelan agar bumper tidak gasruk.
Cara Menuju ke Sana Tanpa Nyasar

Lokasi Bukit Teletubbies Anggaraksa memang agak remote, tapi itulah yang membuatnya spesial. Berikut panduan navigasinya.
- Titik Google Maps: Cari “Desa Anggaraksa” atau “Bukit Teletubbies Anggaraksa”.
- Dari Mataram (2,5 – 3 Jam): Ambil rute timur melintasi Narmada – Kopang – Terara – Sikur – Masbagik. Di perempatan besar Masbagik, lurus terus ke arah Labuhan Lombok/Pringgabaya. Ikuti jalan utama sampai Anda melihat petunjuk atau bertanya pada warga lokal arah masuk Desa Anggaraksa.
- Dari Kuta Mandalika (2 Jam): Via Praya – Kopang, lalu bergabung ke jalur utama menuju Masbagik.
Saran Transportasi: Motor adalah kendaraan paling fleksibel. Jika menyewa mobil, pastikan sopir Anda paham medan Lombok Timur. Belum ada angkutan umum yang efektif mencapai titik ini langsung.
Rekomendasi Itinerary: Maksimalkan Hari Anda
Karena mendaki dan berfoto di bukit ini paling lama hanya memakan waktu 1-2 jam, sangat sayang jika Anda jauh-jauh ke Lombok Timur hanya untuk satu titik. Buatlah perjalanan Anda efisien dengan menggabungkannya dalam satu sirkuit wisata “East Lombok Explorer”.
Berikut rencana perjalanan yang saya sarankan:
- Pagi (09.00 – 11.00): Kunjungi Pohon Purba Lian di Sambelia. Pohon-pohon raksasa ini sangat magical dan lokasinya searah.
- Siang (11.00 – 14.00): Menyeberang sebentar ke Gili Kondo. Pasirnya putih bersih, airnya jernih, dan jauh lebih sepi dari Gili Trawangan. Makan siang seafood bakar di pinggir pantai adalah kewajiban.
- Sore (15.30 – 17.30): Tutup hari Anda di Bukit Teletubbies Anggaraksa. Cahaya matahari sore (golden hour) akan membuat tekstur bukit terlihat dramatis. Bayangan lekukan bukit akan muncul, menciptakan efek 3D yang sempurna untuk foto. Plus, suhu udara sudah mulai turun sehingga pendakian ringan ke puncak bukit tidak akan terlalu menyiksa.
Bukit Teletubbies Anggaraksa adalah destinasi bagi mereka yang mencari keaslian. Ia menawarkan keindahan yang sederhana namun megah, jauh dari hiruk-pikuk pariwisata massal.
Kuncinya hanya satu: Timing. Datanglah di bulan Maret atau April. Jangan memaksakan diri datang di bulan Agustus kecuali Anda memang mengincar foto savana kering. Siapkan fisik, hormati alam dengan tidak membuang sampah, dan nikmati salah satu sudut terbaik yang dimiliki Nusa Tenggara Barat.
Selamat berpetualang, dan semoga Anda mendapatkan langit biru yang sempurna!



