Wisata Pedesaan Berkelanjutan di Desa Wisata Hijau Bilebante

desa wisata hijau bilebante
source : bilebante.com

Pernahkah kalian merasa sangat lelah dengan rutinitas kota yang itu-itu saja? Bayangkan sejenak: kalian membuka mata di pagi hari, lalu paru-paru kalian langsung menyambut udara segar tanpa polusi. Selanjutnya, mata kalian akan dimanjakan oleh hamparan sawah hijau yang membentang luas. Jika gambaran ini yang sedang kalian butuhkan untuk menyegarkan jiwa, maka desa wisata hijau bilebante adalah jawaban paling tepat untuk liburan kalian selanjutnya. Terletak strategis di Kabupaten Lombok Tengah, desa ini menawarkan lebih dari sekadar pemandangan; desa ini mengajak kalian merasakan kehidupan yang harmonis dengan alam.

Transformasi Ajaib: Dari Lubang Tambang Menjadi Permata Dunia

Mungkin kalian akan sulit percaya jika melihat keindahannya sekarang. Namun, desa wisata hijau bilebante menyimpan sejarah transformasi yang sungguh luar biasa. Dulunya, desa ini merupakan kawasan pertambangan pasir galian C yang gersang dan penuh debu. Selama bertahun-tahun, tanah di sini dieksploitasi hingga meninggalkan kerusakan lingkungan yang cukup parah. Akan tetapi, semangat warga untuk mengubah nasib kampung halaman mereka patut kita acungi jempol.

Mulai tahun 2016, masyarakat desa bergerak bersama untuk menutup lembaran kelam tersebut. Mereka bahu-membahu merehabilitasi lahan kritis, menanam kembali pepohonan peneduh, dan mengubah bekas galian tambang menjadi area produktif. Kerja keras ini terbayar lunas. Faktanya, Bilebante kini telah bertransformasi menjadi destinasi kelas dunia. Bahkan, desa ini berhasil menyabet gelar Runner Up Desa Wisata Terbaik Dunia versi UNWTO pada 2023 dan yang terbaru, meraih Juara Umum di ajang bergengsi Wonderful Indonesia Awards (WIA) 2025. Prestasi mentereng ini membuktikan bahwa komitmen kuat mampu memulihkan kerusakan alam menjadi surga yang membawa berkah.

Surga Kuliner di Pasar Pancingan

Setelah puas berkeliling, perut kalian pasti akan minta diisi. Salah satu lokasi paling hits yang wajib kalian kunjungi adalah Pasar Pancingan. Tempat ini bukan sekadar pasar kuliner biasa. Di sini, pengelola menerapkan konsep pond-to-table yang unik. Artinya, kalian bisa meminjam alat pancing, duduk santai di tepi kolam bekas galian yang sudah disulap jadi asri, lalu menunggu umpan kalian disambar ikan.

Selanjutnya, hasil tangkapan kalian—bisa berupa ikan nila atau gurame segar—akan langsung dimasak oleh ibu-ibu warga lokal di sana. Rasanya? Jangan tanya lagi. Daging ikan yang manis berpadu sempurna dengan bumbu rempah khas Lombok yang kaya rasa. Selain ikan, kalian juga harus mencoba berbagai jajanan tradisional. Ada Sate Lilit yang gurih, Urap sayuran segar, hingga jajanan pasar yang meledak di mulut. Menariknya, pasar ini sangat meminimalisir penggunaan plastik. Para penjual menyajikan makanan dengan daun pisang atau piring anyaman bambu. Oleh karena itu, pengalaman makan kalian akan terasa makin estetik dan tentu saja ramah lingkungan.

Filosofi Pedas dalam Sepiring Ayam Merangkat

Berbicara soal kuliner, perjalanan kalian ke desa wisata hijau bilebante belum sah tanpa mencicipi Ayam Merangkat. Ini bukan sembarang ayam bakar atau goreng. Hidangan ini memiliki filosofi budaya yang sangat mendalam. Dalam tradisi suku Sasak, masyarakat biasanya menyajikan hidangan ini saat prosesi pernikahan atau perdamaian antar keluarga, khususnya setelah tradisi Merariq (melarikan anak gadis).

Proses memasaknya pun unik karena melibatkan kerja sama gender. Kaum bapak bertugas mencincang daging dan meracik bumbu (“mebat”), sedangkan kaum ibu yang memasaknya. Ayam kampung ini dibakar lalu dibumbui dengan racikan rempah super pedas yang terdiri dari cabai rawit, terasi Lombok, dan bumbu rahasia lainnya. Ketika menyantapnya, perpaduan rasa pedas yang menyengat, gurih, dan tekstur ayam kampung yang juicy akan membuat kalian ketagihan. Bagi kalian yang penasaran cara membuatnya, pengelola desa juga menyediakan paket Cooking Class. Seru sekali, bukan?

Menikmati “Wellness Tourism” dengan Harga Terjangkau

Lelah setelah seharian beraktivitas fisik? Jangan khawatir. Bilebante terkenal dengan layanan Wellness Tourism yang memanjakan tubuh. Kalian bisa mencoba paket spa tradisional yang menggunakan bahan-bahan herbal alami hasil kebun warga sendiri. Hebatnya lagi, harga yang mereka tawarkan sangat ramah di kantong. Kalian hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 45.000 untuk spa pria dan Rp 55.000 untuk wanita.

Terapis yang melayani kalian adalah warga lokal yang sudah terlatih secara profesional. Pijatan mereka yang mantap, berpadu dengan aroma terapi dari minyak serai atau jahe, akan meluruhkan segala pegal dan stres. Relaksasi di tengah suasana pedesaan yang tenang, ditemani suara angin dan burung, benar-benar memberikan efek healing yang maksimal. Tak hanya itu, kalian juga bisa berkeliling kebun herbal untuk belajar tentang tanaman obat keluarga (TOGA) yang menjadi bahan dasar ramuan spa tersebut.

Petualangan Seru: Gowes dan ATV di Tengah Sawah
gowes di desa wisata hijau bilebante
source : bilebante.com

Bagi kalian yang menyukai aktivitas fisik, desa wisata hijau bilebante menyediakan jalur sepeda yang sangat instagramable. Kalian bisa menyewa sepeda lalu berkeliling menyusuri pematang sawah yang asri. Rute sepeda ini akan membawa kalian melewati permukiman warga yang ramah, sungai-sungai kecil yang jernih, hingga ke ikon desa seperti Jembatan Kapur peninggalan Belanda.

Jika beruntung, kalian bisa berpapasan dengan petani yang sedang panen raya. Rasakan sensasi angin sepoi-sepoi menerpa wajah saat kalian mengayuh pedal. Ini adalah sensasi kebebasan yang jarang kita temukan di kota besar. Namun, bagi yang ingin sedikit tantangan memacu adrenalin, tersedia juga penyewaan ATV. Kalian bisa memacu kendaraan melintasi jalur tanah yang sedikit berlumpur dan menantang dengan biaya sewa sekitar Rp 150.000. Pengalaman ini pasti akan menjadi cerita seru untuk dibawa pulang.

atf di desa wisata hijau bilebante
source : bilebante.com
Harmoni dalam Keberagaman: Pura di Tengah Desa Muslim

Keunikan lain dari Bilebante yang pasti akan membuat kalian kagum adalah toleransi beragamanya. Di tengah desa yang mayoritas penduduknya Muslim (Suku Sasak), berdiri megah Pura Lingkar Kelud. Pura ini merupakan salah satu pura tertua di Lombok Tengah. Menariknya, warga desa menjaga dan menghormati keberadaan pura ini tanpa memandang perbedaan agama.

Saat bersepeda melewatinya, kalian akan merasakan aura kedamaian yang sangat kuat. Ini adalah pelajaran nyata tentang Bhinneka Tunggal Ika. Warga Bilebante membuktikan bahwa perbedaan keyakinan justru bisa menjadi perekat sosial yang indah. Interaksi hangat antarwarga yang berbeda agama ini menjadi pemandangan yang menyejukkan hati dan menambah nilai spiritual perjalanan wisata kalian.

Aksi Nyata Keberlanjutan: Biogas dan Bank Sampah

Mengapa desa ini disebut “Hijau”? Jawabannya bukan hanya karena pemandangannya. Warga desa benar-benar menerapkan gaya hidup ramah lingkungan. Salah satu inovasi keren di sini adalah penggunaan biogas. Beberapa rumah warga mengolah kotoran ternak sapi dan limbah organik rumah tangga menjadi gas metana untuk memasak. Jadi, mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada LPG atau kayu bakar.

Selain itu, sistem pengelolaan sampah di sini berjalan sangat sistematis. Melalui program bank sampah, warga memilah sampah organik dan anorganik. Sampah organik mereka olah menjadi pupuk, sedangkan yang anorganik didaur ulang. Wisatawan pun diajak untuk tidak membuang sampah sembarangan. Oleh karena itu, saat berkunjung ke sini, kalian tidak hanya berlibur, tetapi juga belajar bagaimana menjaga bumi dengan aksi nyata.

Menginap di Homestay: Merasakan Kehangatan Keluarga Baru

Untuk pengalaman yang paripurna, saya sangat menyarankan kalian untuk menginap di homestay milik warga. Ada banyak pilihan seperti Yudha Homestay, Hurul Homestay, atau Bagas Homestay. Menginap di sini jelas berbeda dengan di hotel berbintang. Kalian akan tinggal bersama keluarga lokal, merasakan kehangatan keramahan mereka, dan melihat langsung kehidupan desa yang bersahaja.

Fasilitasnya pun sudah sangat memadai. Mulai dari kamar bersih ber-AC, Wi-Fi kencang, hingga sarapan rumahan yang lezat. Pemilik homestay biasanya dengan senang hati akan menemani kalian mengobrol atau mengantar berkeliling. Ini adalah kesempatan emas untuk mendapatkan teman baru dan menyelami budaya Sasak secara langsung.

Baca Juga :

Review Singkat Pantai Surga Lombok untuk Liburan Santai
Fakta Menarik Pantai Pengantap yang Jarang Dibahas
Ulasan Singkat Pantai Meang untuk Wisatawan
Aktivitas Wisata yang Bisa Dilakukan di Gunung Jae Lombok
Saatnya Kembali ke Alam

Desa wisata hijau bilebante adalah bukti nyata bahwa pariwisata bisa berjalan beriringan dengan pelestarian alam dan budaya. Di sini, kalian tidak hanya menjadi turis asing, tetapi menjadi bagian dari keluarga besar yang peduli pada bumi. Aksesnya pun sangat mudah, hanya sekitar 30 menit berkendara dari Bandara Internasional Lombok.

Jadi, tunggu apa lagi? Segera rencanakan liburan kalian ke Bilebante. Ajak keluarga, pasangan, atau sahabat terbaik kalian untuk merasakan sendiri keajaiban desa ini. Dukung pariwisata lokal, nikmati alamnya, dan bawa pulang kenangan manis yang tak terlupakan. Sampai jumpa di Bilebante!


Paket Wisata yang mungkin anda minati

Home » Wisata Pedesaan Berkelanjutan di Desa Wisata Hijau Bilebante