Jangan Ke Orong Bukal Sebelum Baca Review Ini, Biar Gak Menyesal!

Raja Ampat Lombok Orong Bukal

Pernah gak sih kamu ngeliat video seliweran di TikTok atau Instagram yang nampilin tebing-tebing karang megah di atas laut biru, terus caption-nya bilang “Ini bukan Raja Ampat, ini Lombok!”? Kalau pernah, besar kemungkinan kamu sedang melihat Orong Bukal.

Jujur aja, saya juga awalnya termakan “racun” visual itu. Siapa sih yang gak mau liburan ke tempat sekece Raja Ampat tapi dengan budget hemat ala backpacker ke Lombok? Tapi, tunggu dulu. Sebelum kamu buru-buru packing dan gas motor ke sana, kamu wajib baca artikel ini sampai habis.

Kenapa? Karena realita di lapangan sering kali beda jauh sama ekspektasi manis di media sosial. Saya bakal kupas tuntas, blak-blakan, dan tanpa basa-basi tentang pengalaman ke Orong Bukal. Mulai dari jalur yang bikin encok, panas yang bikin gosong, sampai pemandangan yang—spoiler alert—memang bikin melongo.

Anggap aja ini panduan penyelamat biar kamu gak menyesal atau zonk pas nyampe sana!

Apa Itu Orong Bukal Sebenarnya?
Surga Fotografi Orong Bukal

Biar kita satu frekuensi dulu, Orong Bukal itu sebenarnya bukan pantai landai tempat kamu bisa gelar tikar piknik santai di pinggir air. Secara teknis, Orong Bukal adalah sebuah viewpoint atau titik pandang di atas tebing karang yang menjulang tinggi di kawasan Sekotong, Lombok Barat.

Nama “Orong Bukal” sendiri diambil dari bahasa Sasak. “Orong” artinya lorong atau jalan sempit, dan “Bukal” artinya kelelawar. Jadi, tempat ini aslinya adalah “Lorong Kelelawar”. Di bawah tebing itu memang ada gua besar yang jadi sarang ribuan kelelawar. Kalau kamu beruntung (atau sial, tergantung selera), kamu bakal mencium aroma khas guano mereka yang terbawa angin.

Lokasinya ada di Desa Buwun Mas. Ini penting kamu catat: Sekotong itu luas banget, dan Orong Bukal ada di ujung yang lumayan “mojok”.

Perjalanan Menuju Lokasi: Ujian Kesabaran Dimulai

Sekarang kita masuk ke bagian “pahit”-nya dulu. Kamu harus tahu kalau perjalanan ke sini butuh niat yang kuat.

1. Rute yang Menipu Navigasi

Kalau kamu berangkat dari Mataram, kamu bakal butuh waktu sekitar 1,5 sampai 2 jam perjalanan. Jalan rayanya sih mulus banget sampai ke Sekotong Tengah. Pemandangan pesisir pantainya juara! Tapi, begitu kamu masuk ke Desa Buwun Mas, game berubah level.

Jangan percaya 100% sama Google Maps! Ini serius. Aplikasi peta sering kali ngarahin kamu lewat jalan tikus atau gang sempit di perumahan warga yang buntu. Mending kamu tanya warga lokal begitu sampai di pusat desa. Bilang aja, “Numpang tanya, jalan ke parkiran Orong Bukal lewat mana?” Mereka pasti bakal ngasih tahu jalan yang benar.

2. Kondisi Jalan Desa

Jalan masuk ke area parkiran itu campur aduk. Ada yang sudah rabat beton, ada yang masih tanah berbatu. Kalau kamu bawa motor matic kecil (kayak Beat atau Vario) dan boncengan, hati-hati ya. Ada beberapa tanjakan yang lumayan bikin motor ngeden. Kalau bawa mobil, city car masih aman, tapi kalau sedan ceper mending jangan deh, sayang bumper-nya.

Wisata Orong Bukal
Siapkan Fisik, Bukan Cuma Outfit!

Sampai di parkiran, kamu bakal mikir, “Oh, udah nyampe nih tinggal foto.”

Salah besar, Kawan!

Dari parkiran, kamu punya dua pilihan hidup:

  1. Jalan Kaki (Trekking Manual): Kamu harus jalan nanjak bukit sekitar 30 menit sampai 1 jam (tergantung napas kamu). Jalurnya tanah liat dan batu kapur. Kalau musim kemarau, panasnya minta ampun karena pohon peneduhnya jarang. Kalau musim hujan? Wah, siap-siap “ngesot” karena licin banget kayak seluncuran.
  2. Naik Ojek Warga: Warga lokal menyediakan jasa ojek seharga Rp 50.000 (PP). Ini opsi yang sangat saya sarankan kalau kamu gak mau capek. TAPI, ojek ini cuma nganter sampai Pos 1 (sekitar 80% perjalanan). Sisanya? Tetap harus jalan kaki melewati semak-semak dan tebing curam sekitar 10-15 menit lagi.

Jadi, intinya kamu tetap harus keluar keringat. Jangan harap bisa turun mobil langsung pose cantik.

Pemandangan “Mahal” yang Membayar Lunas

Oke, setelah kamu ngos-ngosan, kaki pegal, dan baju basah keringat, kamu akhirnya sampai di bibir tebing. Dan di sinilah momen “ajaib” itu terjadi.

Sumpah, pemandangannya gila banget!

Kamu berdiri di atas tebing tinggi, memandang ke bawah di mana pulau-pulau karang kecil (gili) tersebar acak di atas laut. Air lautnya punya gradasi warna yang unreal—dari biru tua, toska, sampai bening kristal di pinggiran karang.

Banyak yang bilang ini mirip Raja Ampat, dan menurut saya, klaim itu gak berlebihan. Memang skalanya lebih kecil, tapi vibe-nya dapet banget. Tebing-tebing karang tajam yang dihantam ombak Samudra Hindia bikin suasana jadi dramatis. Kalau kamu bawa drone, terbangkan sekarang juga. Pemandangan dari atas bakal bikin followers kamu ngiri maksimal.

Ada satu spot foto buatan berupa dek kayu dengan tulisan “Sapta Pesona”. Tapi, kebanyakan orang lebih suka foto di atas batu karang alami biar kelihatan lebih petualang. Hati-hati ya, angin di atas sini kencang banget. Jangan nekat foto terlalu pinggir demi konten!

Bonus Tersembunyi

Kalau kamu masih punya sisa tenaga, jangan langsung pulang. Di dekat situ ada jalur turun menuju Pantai Piling.

Pantai Piling ini kebalikan dari Orong Bukal. Kalau Orong Bukal itu tebing garang, Pantai Piling itu pasir putih lembut yang tenang. Tempatnya sepi banget, berasa kayak pantai pribadi. Kamu bisa main air di sini untuk ngademin badan setelah “mateng” di atas tebing. Tapi ingat, jalur ke sini nambah waktu trekking lagi sekitar 30 menitan.

Kelebihan dan Kekurangan

Biar adil dan kamu punya gambaran utuh, saya buatkan ringkasan pros and cons-nya. Baca baik-baik ya!

Kelebihan (Yang Bikin Happy) 👍Kekurangan (Yang Bikin Emosi) 👎
Visual Juara Dunia: Pemandangannya beneran kelas internasional. Gak kalah sama luar negeri.Panas Ekstrem: Gak ada pohon besar di spot utama. Matahari serasa ada di atas kepala persis.
Murah Meriah: Tiket masuk cuma sekitar Rp 5.000 – 10.000. Parkir juga murah.Fasilitas Minim: Di atas tebing GAK ADA warung air, gak ada toilet, gak ada tempat berteduh.
Sepi & Eksklusif: Jauh dari keramaian turis massal. Kamu bisa nikmatin alam dengan tenang.Akses Sulit: Butuh fisik prima. Bukan tempat wisata ramah lansia atau balita.
Spot Foto Melimpah: Setiap sudut bisa jadi background foto yang keren.Sinyal Susah: Kadang ada, kadang hilang. Jangan andalkan internet buat live streaming.
Tips Strategis Biar Gak Menyesal

Supaya pengalaman kamu tetap “manis” dan minim drama, kamu wajib ikutin tips berikut ini:

  1. Bawa Air Minum yang Banyak! Ini serius. Saya tekankan lagi: Di atas gak ada yang jual minum. Kalau kamu dehidrasi di tengah tebing, gak ada yang bisa nolongin cepet. Bawa minimal 1,5 liter per orang.
  2. Datang Pagi atau Sore Sekalian. Jam terbaik itu pukul 08.00 – 10.00 pagi. Matahari sudah terang buat foto air laut jadi biru, tapi belum terlalu menyengat. Atau sore sekalian buat sunset. Hindari jam 12 siang kecuali kamu mau simulasi jadi ikan asin.
  3. Pakai Alas Kaki yang Benar. Please, jangan pakai high heels atau sandal jepit licin. Pakai sepatu kets atau sandal gunung yang grip-nya kuat. Batunya tajam dan tanahnya licin.
  4. Bawa Uang Tunai (Cash). Di desa gak ada mesin EDC atau QRIS. Siapkan uang receh buat bayar parkir, tiket, dan ojek.
  5. Jangan Buang Sampah Sembarangan.Tempat ini masih bersih karena jarang orang. Jangan jadi norak dengan ninggalin botol plastik atau bungkus tisu di semak-semak. Kantongin sampahmu sampai nemu tong sampah di bawah!
Baca Juga :

Menikmati Udara Sejuk dan Suara Alam di Kawasan Wisata Air Terjun Semporonan
Wisata Kuliner Sekaligus Healing di Taman Langit Lombok
Gili Meno: Destinasi Honeymoon Paling Romantis di Indonesia
Melihat Proses Budidaya Mutiara di Pesisir Pulau Lombok
Worth It Gak Sih?

Jawabannya tergantung tipe traveler seperti apa kamu.

Kalau kamu tipe yang suka petualangan, hobi trekking, suka fotografi, dan gak masalah capek demi pemandangan bagus, maka Orong Bukal adalah SURGA buat kamu. Rasa lelahmu bakal terbayar lunas, tunai, tanpa cicilan!

Tapi, kalau kamu tipe traveler yang nyari kenyamanan, maunya turun mobil langsung sampai, gak tahan panas, atau bawa anak kecil dan orang tua, mending SKIP aja. Kamu cuma bakal ngomel-ngomel sepanjang jalan dan akhirnya menyesal.

Sekotong itu indah, dan Orong Bukal adalah mahkotanya. Tapi ingat, mahkota itu letaknya di tempat tinggi dan butuh usaha buat ngambilnya.

Jadi, kapan kamu mau membuktikan sendiri keindahan “Raja Ampat” ala Lombok ini? Siapin fisik, siapin mental, dan gas berangkat!


Paket Wisata yang mungkin anda minati