Menyusuri Lorong Hijau: Sensasi Naik Kano di Gili Petagan

Gili Petagan

Pernahkah kamu membayangkan sebuah tempat di mana hutan lebat tumbuh subur tepat di atas permukaan laut yang asin? Selanjutnya, bayangkan kamu mengayuh kano perlahan, membelah keheningan di antara akar-akar pohon raksasa yang meliuk eksotis, sementara ikan-ikan kecil berenang riang tepat di bawah perahumu. Tunggu dulu, kamu tidak perlu terbang jauh-jauh ke Sungai Amazon di Amerika Selatan untuk merasakan sensasi magis ini. Kamu hanya perlu mengunjungi Gili Petagan di Lombok Timur.

Bagi kita yang sering merasa penat dengan hiruk-pikuk kota atau bosan dengan destinasi wisata yang itu-itu saja, Gili Petagan menawarkan sebuah pelarian yang menyegarkan. Pulau tak berpenghuni ini menyimpan sejuta pesona yang menggabungkan keajaiban ekologi, jejak sejarah masa lalu yang misterius, dan keindahan bawah laut yang memukau. Mari kita kupas tuntas mengapa Gili Petagan wajib masuk dalam bucket list liburan kamu tahun ini!

Menemukan “Amazon” yang Hilang di Selat Alas

Gili Petagan berlokasi di perairan Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur. Pulau ini merupakan bagian dari gugusan gili cantik yang meliputi Gili Kondo, Gili Bidara, dan Gili Kapal. Namun, Gili Petagan memiliki karakter yang paling menonjol dan berbeda dari saudaranya yang lain. Jika pulau tetangganya membanggakan hamparan pasir putih yang luas, Gili Petagan justru memamerkan hamparan hutan bakau (mangrove) seluas kurang lebih 50 hektar yang menutupi hampir seluruh permukaan pulaunya.   

Masyarakat setempat dan para pelancong sering menjuluki tempat ini sebagai “Amazon-nya Indonesia”. Julukan tersebut tentu muncul bukan tanpa alasan yang kuat. Formasi vegetasi mangrove di sini tumbuh sangat rapat dan masif, membentuk lorong-lorong air alami yang sempit dan berkelok-kelok.   

Ketika kamu mulai memasuki area ini, sinar matahari yang terik seketika berubah menjadi cahaya temaram yang menenangkan karena terhalang oleh kanopi daun yang rimbun. Suasana teduh, sejuk, dan sedikit mistis akan langsung menyambutmu, membuat bulu kuduk merinding karena kagum akan kebesaran alam.

Jejak Jepang di Balik Rimbunnya Bakau

Tahukah kamu bahwa keindahan Gili Petagan menyimpan lapisan sejarah yang sangat mendalam? Berdasarkan cerita turun-temurun dan catatan sejarah lokal, keberadaan hutan bakau yang begitu rapat di pulau ini memiliki kaitan erat dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia sekitar tahun 1941.   

Kala itu, tentara Jepang memanfaatkan pulau strategis ini sebagai basis pertahanan untuk mengawasi pergerakan musuh di Selat Alas. Konon, tentara Jepang secara khusus menata atau merehabilitasi hutan bakau ini dengan tujuan militer yang cerdik. Mereka menggunakannya sebagai benteng kamuflase alami.

Rimbunnya pohon bakau berfungsi sangat efektif untuk menyembunyikan kapal-kapal patroli dan pos pengintai mereka dari pantauan pesawat tempur Sekutu yang melintas di udara. Jadi, saat kamu menyusuri lorong-lorong hijau ini, sejatinya kamu sedang menapak tilas sebuah situs sejarah perang dunia yang kini telah berubah wujud menjadi laboratorium alam yang damai.   

Sensasi Mengayuh Kano Membelah Lorong Hijau
Menyusuri sungai Gili Petagan

Kegiatan utama yang paling dinantikan oleh setiap pengunjung Gili Petagan tentu saja adalah menyusuri interior hutan mangrovenya. Kamu bisa menyewa perahu nelayan tradisional atau kano dari pengelola wisata di Desa Padak Guar atau Jerowaru.

Saat perahu mulai bergerak meninggalkan perairan terbuka dan moncong perahu mulai masuk ke celah sempit hutan bakau, seketika suara deburan ombak laut akan lenyap. Kesunyian yang menenangkan akan langsung menggantikan kebisingan dunia luar.

Selanjutnya, kamu hanya akan mendengar suara kecipak dayung yang membelah air dan nyanyian burung-burung camar yang bersarang di dahan pohon. Air di dalam lorong mangrove ini sangat tenang dan jernih. Jika kamu menengok ke bawah, kamu bisa menyaksikan ekosistem yang sibuk; ikan-ikan kecil mencari makan di antara akar tunjang pohon bakau yang kokoh mencengkeram dasar karang.

Pengalaman ini sungguh terasa magis. Kamu seolah-olah sedang berpindah dimensi dari dunia nyata yang bising menuju sebuah santuari alam purba yang hening. Setiap tikungan di dalam lorong ini menawarkan kejutan visual yang berbeda. Terkadang kamu harus menundukkan kepala untuk menghindari dahan pohon yang rendah. Momen-momen interaksi fisik dengan alam inilah yang membuat petualangan di Gili Petagan terasa begitu autentik.

Waktu Terbaik: Kunci Menikmati Gili Petagan
Ekowisata Mangrove Gili Petagan

Agar kamu bisa mendapatkan pengalaman yang maksimal, kamu harus memperhatikan satu faktor alam yang krusial: pasang surut air laut. Waktu kunjunganmu akan sangat menentukan apa yang bisa kamu lihat dan lakukan di sana.

Jika kamu ingin merasakan sensasi masuk jauh ke dalam lorong mangrove hingga ke jantung pulau, pastikan kamu datang saat air laut sedang pasang tinggi. Mengapa demikian? Karena saat air pasang, kedalaman air cukup untuk perahu atau kano melintas tanpa menyentuh dasar karang. Kamu bisa menjelajah lebih jauh dan melihat sisi dalam hutan yang jarang terjamah manusia.   

Sebaliknya, jika kamu datang saat air surut, akses perahu ke dalam lorong akan tertutup karena air menjadi terlalu dangkal. Perahu bisa kandas dan berpotensi merusak ekosistem karang di bawahnya. Namun, jangan khawatir jika kamu terlanjur datang saat surut. Kondisi air surut justru membuka kesempatan emas lain yang tak kalah seru.   

Saat surut, kamu bisa berjalan kaki di perairan dangkal sekitar pulau (ingat untuk memakai alas kaki yang aman) dan menikmati keindahan padang lamun. Momen surut ini juga adalah waktu terbaik untuk mengunjungi Gili Kapal, sebuah pulau pasir timbul (gosong pasir) di dekat Gili Petagan yang hanya muncul ke permukaan saat air laut turun. Jadi, sangat kami sarankan agar kamu berkonsultasi terlebih dahulu dengan pemandu lokal atau kapten kapal mengenai jadwal pasang surut sebelum berangkat.

Surga Bintang Laut dan Padang Lamun

Gili Petagan tidak hanya mempesona di permukaan, tetapi juga menyembunyikan keindahan luar biasa di bawah air. Perairan dangkal di sekitar hutan mangrove ini merupakan habitat subur bagi padang lamun (seagrass meadow) yang luas. Padang lamun ini berfungsi vital sebagai penyerap karbon dan rumah bagi berbagai biota laut yang unik.

Salah satu primadona yang paling sering dicari wisatawan di padang lamun ini adalah bintang laut. Kamu akan dengan mudah menemukan bintang laut berukuran besar dengan warna-warna mencolok seperti oranye, merah, atau biru yang tersebar di dasar pasir putih yang jernih. Mereka tampak seperti hiasan yang ditebar oleh alam di lantai samudra.   

Akan tetapi, ada satu aturan penting yang wajib kamu patuhi demi kelestarian mereka. Jangan pernah menyentuh, memegang, atau mengangkat bintang laut tersebut keluar dari air! Bintang laut adalah makhluk yang sangat sensitif. Mengangkat mereka ke udara dapat menyebabkan masuknya udara ke dalam sistem vaskular air mereka, yang bisa berujung pada kematian. Cukup nikmati keindahan mereka dari balik masker snorkeling-mu atau potretlah mereka dari kejauhan tanpa mengganggu. Mari kita menjadi wisatawan cerdas yang peduli kelestarian alam.   

Panorama Rinjani yang Mengawasi
Panorama Rinjani di Gili Petagan

Satu hal lagi yang membuat Gili Petagan begitu spesial adalah latar belakang pemandangannya. Saat kamu berada di perairan sekitar pulau, cobalah arahkan pandanganmu ke arah barat. Jika cuaca sedang cerah, kamu akan melihat sosok Gunung Rinjani yang berdiri gagah menjulang menembus awan.   

Perpaduan warna yang tersaji di depan mata sungguh spektakuler. Birunya laut Selat Alas berpadu kontras dengan hijaunya hutan mangrove Gili Petagan, lalu disempurnakan oleh megahnya siluet Rinjani di kejauhan. Pemandangan ini adalah mimpi indah bagi para fotografer lanskap. Pastikan baterai kameramu terisi penuh agar kamu tidak melewatkan momen golden hour saat matahari mulai condong ke barat dan menyinari Rinjani dengan cahaya keemasan.

Rute Menuju Lokasi dan Tips Perjalanan

Lalu, bagaimana cara menuju ke surga tersembunyi ini? Perjalananmu akan dimulai dari Pelabuhan Padak Guar atau Labuhan Pandan di Lombok Timur. Jika kamu berangkat dari Kota Mataram, kamu membutuhkan waktu tempuh sekitar 2,5 hingga 3 jam perjalanan darat menggunakan mobil atau motor.   

Meskipun terdengar cukup jauh, perjalanan ini tidak akan terasa membosankan karena kamu akan melewati deretan pohon purba raksasa di Sambelia yang menakjubkan. Pohon-pohon Ficus albipila yang menjulang setinggi puluhan meter ini menjadi gerbang alam yang menyambut kedatanganmu di Lombok Timur.

Setibanya di pelabuhan, kamu bisa menyewa perahu nelayan setempat. Biasanya, para nelayan menawarkan paket wisata island hopping satu hari penuh. Dengan harga yang relatif terjangkau (sekitar Rp 300.000 – Rp 600.000 per perahu), kamu tidak hanya akan diajak ke Gili Petagan, tetapi juga mampir ke Gili Kondo untuk bermain pasir putih, Gili Bidara untuk melihat perkampungan nelayan, dan Gili Kapal untuk berfoto di tengah laut.

Baca Juga :

Review Singkat Pantai Surga Lombok untuk Liburan Santai
Gili Bidara: Pulau Tak Berpenghuni dengan Hamparan Pasir Putih yang Menawan
Pengalaman Tak Terlupakan Menginap di Atas Awan Bukit Pemedengan
Wisata Pedesaan Berkelanjutan di Desa Wisata Hijau Bilebante
Sebelum berangkat, persiapkanlah beberapa hal penting ini:
  1. Logistik: Gili Petagan adalah pulau tak berpenghuni, jadi kamu tidak akan menemukan warung makan, toilet, atau penginapan di sana. Bawalah bekal makanan dan minuman secukupnya dari darat.   
  2. Sampah: Jangan lupa membawa kantong sampah sendiri untuk membawa pulang sisa bungkus makananmu.
  3. Perlengkapan: Topi, kacamata hitam, dan sunblock yang aman bagi terumbu karang sangat disarankan.

Gili Petagan membuktikan bahwa pesona Lombok tidak hanya melulu tentang pantai pasir putih. Hutan mangrove yang tumbuh di tengah laut ini menawarkan pengalaman wisata ekologis yang unik, edukatif, dan menenangkan. Menyusuri lorong hijau Gili Petagan dengan kano atau perahu kecil akan memberikan kenangan petualangan yang tak terlupakan seumur hidup. Jadi, segera rencanakan perjalananmu ke Lombok Timur dan bersiaplah untuk terpukau oleh keajaiban “Amazon-nya Indonesia”!


Paket Wisata yang mungkin anda minati